Pak Yasin dan tokoh wayang kesukaannya
Pak Yasin, begitu dirinya biasa dipanggil, di hari tuanya mendapat kehormatan sebagai petugas yang mengurusi kereta kencana dan benda pusaka milik Pemerintah Kabupaten Pemalang. Dengan begitu setiap saat dirinya berada di lingkungan pendopo kabupaten untuk menjaga serta merawat benda-benda warisan budaya leluhur itu dengan seksama.

Tidak mudah menjadi ‘abdi’ pengurus kereta dan benda pusaka. Pak Yasin harus mengikuti pelatihan penjamasan pusaka di Surakarta. “Saya mengikuti pelatihan jamas tiga tahun lalu di Padepokan Meteor Putih Solo,” ungkapnya ketika ditemui di sanggarnya ‘Sanggar Pawiyatan Seni’ belum lama ini.

Menurut suami dari waranggana Nining Suwarti, selama mengikuti pelatihan dirinya mempelajari pernak pernik penjamasan benda pusaka, utamanya keris dan tumbak. Sehingga bisa memahami serta tahu persis ihwal ritus penjamasan pusaka.

 
Pak Yasin saat penjamasan kereta beberapa waktu lalu
Namanya M Yasin Aman, umurnya 62 tahun, lahir di Temanggung 2 Juni 1953. Bertempat tinggal di Dusun Suwuk, RT 03 RW 04 Desa Kuta Kecamatan Bantarbolang.

Benda-benda pusaka merupakan warisan leluhur dimasa lalu, katanya. Sehingga sebagai pewaris kita harus menjaga, nguri-uri, agar warisan budaya masa lalu tidak hilang begitu saja.

“Saya sulit membayangkan bagaimana kalau benda pusaka warisan leluhur semua dikuasai bangsa asing, diaku sebagai miliknya, nanti anak cucu kita hanya mendengar dongenngnya saja.” tuturnya dengan nada prihatin.

Kesetiaan dan kesungguhan Pak Yasin dalam menunaikan tugas nguri-uri budaya pun membuahkan sebuah anugerah. Oleh Keraton Surakarta Hadiningrat, Pak Yasin diberi penghargaan sebagai Panewu dalam bentuk nama Mas Ngabehi M Yasin Aman Projo Rumekso. Sertifikat bergengsi dari keraton bertanggal 15 Juni 2012 itu ditandatangani oleh seorang bangsawan Puteri Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Dra. GKR. Mandasari, MPd.

Dengan menyandang gelar tersebut Pak Yasin merasa perlu untuk lebih berhati-hati dalam sikap serta perilaku. Sebagai petugas pelestari budaya dirinya juga merasa harus banyak mengamati kehidupan seni budaya di daerahnya Pemalang.

“Karena itu saya harus ikut melestarikan tradisi dan seni budaya yang ada agar tidak punah diterjang kemajuan jaman,” pungkasnya (Ruslan Nolowijoyo).